WhatsApp Now! Fast response! Hubungi kami VIA WhatsApp Chat / Telephone!

Kopi Panggang Jogja Terletak di Gunungkidul

Kopi Panggang Jogja Terletak di Gunungkidul – UNIK! Kata itu yang langsung muncul di kepala saat pertama kali liat Kopi Panggang. Lha, tempat makan, tapi depannya dikasih asesoris mobil.

“Oh..ini ternyata. Ini punya kakake mbak Kari (teman kantor pak suami). Yang punya Kupu-Kupu Malam Auto Custom itu.” kata pak suami pelan. “Oo…kalau begitu, ya pantes” Jawab saya.

Ini pertama kalinya kami mampir di sini. Begitu lepas dari parkiran, mata saya langsung tertuju ke puluhan kincir angin yang berada tak begitu jauh dari tempat saya berdiri. Ada pembangkit listrik tenaga angin rupanya.

Alunan gending berbahasa Jawa terdengar menghangatkan sore yang dingin. Bangunan berbahan dasar kayu dan berarsitektur gaya Jawa milik Kopi Panggang tampak ramai. Dari pagi wilayah Jogja banyak terguyur hujan, jadi wajar kalau kemudian banyak yang mampir ke sini untuk makan, nyari cemilan, atau sekedar menghangatkan badan dengan secangkir kopi atau segelas wedhang uwuh.

Secara lokasi, Kopi Panggang memang pantas dijadikan tempat melepas lelah. Berada di Jl.Siluk – Panggang, Girisuko, Gunungkidul, kedai kopi ini bisa jadi semacam rest area setelah melintasi banyak kelokan dan tanjakan. “Mas..ini gimana sistem order makanannya?” Pertama mampir, daripada clingak-clinguk bingung, mendingan saya nanya ke kru Kopi Panggang. Kru kedai kopi ini lumayan banyak. Pas kemaren datang, cowok dan masih muda semua.

“Untuk minum dan cemilan, pesan dulu nanti kami antar. Untuk makannya, langsung ambil sendiri.” Penjelasan salah satu kru. Untuk pilihan menu, Kopi Panggang menyediakan menu minuman dan makanan olahan khas masyarakat pedesaan, sesuai tagline mereka, Kopi Panggang Kopi dan Dhaharan Ndeso, maka yang ada di tempat ini ya makanan-makanan yang sering ditemui di dapurnya masyarakat pedesaan, seperti singkong dan pisang goreng, sayur lodeh, ayam dan tahu bacem, telur dadar, kopi, teh, dan juga wedhang uwuh.

Bisa ditebak, anak-anak cuma minum. Mereka nggak tertarik saat saya sodori pilihan singkong goreng atau pisang goreng. Pak suami yang makan, sementara saya milih pesen secangkir kopi hitam plus singkong goreng. Sambil ngopi, saya milih ngamati suasana. Tak jauh dari saya duduk, beberapa remaja tampaknya tengah bersiap untuk menjalani proses pemotretan. Ada seorang cowok, plus 4 cewek sebagai model, untuk produk kain batik. Klo untuk lokasi pemotretan dengan style klasik gitu, tempat ini view nya memang dapet.

Secara umum suasana di Kopi Panggang ini nyaman. Musholanya representatif, gede, di depan lagi. Toiletnya juga bersih. Trus ada semacam pendopo yang mungkin pada hari-hari tertentu dipake untuk live musik, soalnya ada seperangkat gamelan. Secara lokasi, meski kesannya jauh banget dari pusat kota, tapi mungkin si owner pengen nembak segmen wisatawan, karena persis berada di jalur wisata ke arah beberapa pantai di Gunung Kidul. Jadi jalur Panggang ini merupakan jalur masuk dari Jogjakarta menuju Gunung Kidul melalui Jalur Lintas Selatan.

Dari sisi menu menunya? Kalau buat kami, ya biasa. Lha wong kami tinggal masih di desa. Masih berteman akrab sama pisang rebus, pisang goreng, sayur lodeh ataupun telur dadar. Tapi bagi banyak orang, bisa jadi menu-menu tadi istimewa. Kopi Panggang mengajak tamunya untuk kembali menikmati menu-menu pedesaan yang mungkin sudah jarang di sajikan di banyak restoran.

Source: https://www.coretanbunda.my.id/

Leave a Reply